Hijrah

photo6320856937088002042

Sastra Yunani

Gue Firman dari Bandung. Sastra Yunani”, aku berkata mantap kepada beberapa orang yang baru aku berkenalan, sambil memberi senyum, dan meresonansi cekikikan di dalam hati.

Rupanya sebagian lebih dari mereka percaya kalau manusia aneh di depan mereka ini pernah kuliah di jurusan yang terdengar tak biasa dan sepi peminat. Secara teknis, belum ada di database memori mereka, di direktori daftar nama jurusan kuliah yang ada di Indonesia.

“Wow kereen!”, sambil memancar tatap kekaguman.

“Wah baru denger. Itu jurusan ada dimana?”, balik tanya sedikit penasaran. Entah, mungkin karena tertarik ingin kuliah jurusan itu juga.

Sorry, jurusan apaan??”, nampak seperti telinganya digigit laron saat mendengar kata “Yunani”.

“Hah, seriusan lo!?”, dengan muka yang sarat dengan ketidakterimaan dan hawa membunuh, seperti adegan di komik-komik Jepang.

Begitulah contoh respon-respon terbaik dari mereka, para respondenku yang terhormat dan dimuliakan dengan semangat menghidupkan sastra setidaknya di jiwa masing-masing dari mereka! Sisanya, senada dengan sebuah kata ampuh yang umum digunakan dalam retorika perkenalan, “Oh… ”. Datar dan berkecukupan dalam nuansa.

Namun, atas respon yang tak datar dan tak berkecukupan nuansa, aku apresiasi lebih. Aku menimpal mereka balik dengan informasi yang lebih detail dan elaboratif.

Iya, gue pas kuliah udah sering berhadapan dengan huruf-huruf di Bahasa Yunani, contohnya phi, alpha, beta, gamma, epsilon, lambda, miu, dan kroni-kroninya. Dari huruf-huruf itu kalau dirangkai bisa jadi karya sastra dan sajak-sajak yang indah. Jadinya kayak Persamaan Schroedinger, Hukum Newton satu dua tiga, Persamaan Elektromagnetik Maxwell, dan keturunan-keturunannya”, pungkasku penuh percaya diri dan passion seperti mahasiswa lagi sidang tugas akhir sambil pakai toga (pinjam punya senior atau dosen pembimbing).

Kalimat tersebut adalah template. Separuh menikmati, separuh bosan juga aku mengulanginya setiap bertemu dengan teman baru.

Namun dialog lanjutan kemudian tak terhindarkan, perlahan tapi pasti identitasku terbongkar juga. Akhirnya satu persatu mereka aku cerahkan setelah tersesatkan.

Dari sekian acak perkenalan dengan sesama volunteer, semakin yakin aku bahwa bisa jadi aku satu-satunya anak ilmu alam di kerumunan ini. Tapi apalah latar pendidikan pikirku. Toh di dalam sini ada sekitar seperempat jiwa campuran sastrawan dan seniman.

Kegundahan serupa sebenarnya sempat membuatku bertanya-tanya sebelum berangkat ke sini. Mengapa aku bisa diterima menjadi volunteer? Konon, Mbak Ochie dan Mbak Ratih terimpresi saat melihat blog pribadiku. Sengaja aku cantumkan dalam formulir pendaftaran saat tak tahu apa lagi yang bisa aku gombal-kan, heheHm, cukup reasonable menurut hematku meskipun sebenarnya di sana cuma ada tidak lebih dari sepuluh tulisan sejak 2010, laba-laba, dan sarangnya.

Kadang aku juga merasa fisika itu sendiri adalah seni. Seni dalam menceritakan alam semesta, dengan Matematika sebagai bahasa dan sastranya. Bahasa kalbu juga seringkali aku gunakan, terutama saat ujian.

Cukup sudah setengah jam untuk berkenalan penuh canda dengan makhluk-makhluk yang aku berani tebak, tidak satupun dari mereka yang tahu bahwa Albert Einstein itu meraih nobel bukan karena teori relativitasnya. Namun aku berharap aku salah.

Selasa di pekan terakhir Oktober 2017, untuk sementara bukan lagi lulusan fisika.

Sesi orientasi dimulai.

 

Romantika

Suatu malam di awal Agustus. Jemariku menari, mengetikkan esai dan isi formulir pendaftaran volunteer online yang hampir kadaluarsa. Sesekali aku tercenung menatap segelas teh yang sudah dingin di samping tetikus.

“Terus, aku ngapain ya ikutan festival yang kelihatannya keren ini?”, bersit tanya di hati saat itu.

Bagaimana aku bisa berkeinginan kuat untuk mendaftar volunteer. Seorang pengangguran de facto, namun tidak untuk de jure, yang aktivitasnya tak jauh-jauh dari ruang tidur dan Laboratorium Pemodelan dan Inversi, Fisika Bumi ***, tempat aku pernah dikarantina oleh seorang dosen pembimbing yang menurutku juga berjiwa sastra nan puitis-humoris.

Jawabnya ada di dalam sini. Apakah aku ingin bertemu dengan separuh diriku? Yang sudah lama saya tak bersua. ‘Firman versi sastrawan juga seniman’? Oh man, please! Terdengar aneh, tapi boleh juga.

Romantika dalam hati pun tetiba bersemi antara dua jiwa. Fisikawan dan sastrawan. Mereka semestinya sejak lama mengenal satu sama lain seperti saudara kembar.

“Dadah dulu hai engkau fisikawan, perlulah kita menabung rindu dulu. Perpisahan ini takkan lama dan kita akan selalu saling merindu”.

Dalam pikiran, tersenyum aku melihat mereka akrab.

Okay. Submit!

*** sebuah singkatan nama kampus, disembunyikan lantaran mungkin tidak penting juga di kalangan orang sastra dan sosial.

 

Kahiyang Rangers

25 Oktober jam 6.30 waktu Ubud. Kakiku terhuyung menginjak tepi Jalan Raya Sanggingan tepat di depan banner bertulisan ‘Tat Tvam Asi’ setelah 34 jam berperjalanan darat. Kereta ekonomi mengirim badanku dari Bandung ke ujung timur Pulau Jawa, selebihnya bus dan mobil avanza bermode taksi online. Kami benar-benar lega akhirnya bisa sampai di Taman Baca. Sejumlah swafoto mengabadikan senyum kucel kami sebagai selebrasi.

Tunggu dulu, ‘kami’?

Benar, kami. Dari Bandung aku berangkat sendiri namun tak lagi saat aku makan malam di Stasiun Banyuwangi. Aku bertemu mereka pertama kali di Banyuwangi melalui Marwan, Couchsurfer baru kenal seminggu sebelumnya. Mereka rombongan dari Jogja. Obrolan santai makan malam kami kemarin di dekat stasiun Banyuwangi telah membuka tabir awal siapa sebenarnya diri kami. Ternyata kami ditakdirkan bertemu untuk menjadi rangers! Yang kemudian menghuni dan menjaga sebuah markas, berpenampakan sebagai sebuah warung kopi, di malam hari dari serangan nyamuk.

photo6323108736901687235

Salah satu sisi paling rindang di Jalan Raya Ubud. (Foto oleh Galang)

Puas dengan euforia sementara swafoto depan banner, kami berpisah. Aku masih harus bermandi keringat menapak Jalan Raya ubud meminggul tas besar untuk sampai markas bersama Galang, volunteer Audio-Visual. Di markas sudah ada Imam, kolega sedivisi Galang nanti dan juga dari Jogja, yang sudah mendarat sejak sehari sebelumnya bersama Icha, volunteer Greenroom Indus. Kami berdua tiba setelah hampir satu jam berjalan. Tak lama duduk di depan markas, dengan sepeda motor Elis, volunteer basecamp, akhirnya juga menyusul tiba diantar temannya, satu anggota lagi menjadi ranger. Mbak atau Tante Putri, seperti itu dia mengenalkan diri, volunteer MC. Siang harinya, Bhanu akhirnya melengkapi daftar check-in markas hari itu, bersiap untuk sesi orientasi runner Indus.

Sedangkan Gladhys dan Marwan, keduanya volunteer LO dan ranger paling sibuk diantara kami, sedang berpikiran untuk bergabung di markas kemudian hari. Disusul oleh Vivi, adik kelas kuliah Galang, yang menjadi ranger terakhir yang bergabung di masa-masa akhir volunteering.

***

Oh iya, ada seorang ranger lagi namun bukan volunteer festival. Seorang traveler dari California juga ikut mengisi waktu santai kami dengan cerita pengalaman traveling-nya, ditutup dengan pesona kami terhadap tenda tidur dan water filter-nya. Namanya Amman, pria berparas India penggemar meditasi dengan quotes yang aku ingat hingga kini. Everyday is different to me.

Everyday is different to me. (Amman Singh Summan)

Selama di UWRF kami menasbihkan diri menjadi ‘Kahiyang Rangers’. Dideskripsikan sebagai geng volunteer yang bermarkas di Kahiyang Coffee, dekat pertigaan Patung Arjuna. Patung putih yang cukup besar dan gagah di pertigaan jalan. Kata Bhanu, itu sebenarnya adalah sosok Karna yang berdiri menarik panah. Bisa dibilang, pengasuh kami adalah Bapak Iwan Raus, pemilik Kahiyang Coffee yang murah senyum dan canda. Terimakasih Bapak. Terimakasih Couchsurfing.

photo6323171555093358571

Patung Arjuna (alias sesungguhnya Karna) di ujung Jalan Raya Ubud saat pagi hari. (Foto oleh salah satu ranger)

Markas menjadi rumah pertama kami di Ubud. Yang kedua tentu adalah basecamp volunteer untuk mencari sekotak nasi, kadang dua atau tiga kotak. Waktu malam hari kami habiskan di markas dengan senda gurau dan sesi curcol para ranger, update berita keamanan terkini dari masing-masing divisi dan area kami bertugas. Kadang juga mendengar kuliah wawasan dari Bimo, bintang tamu kami, fotografer dengan spesialisasi candid. Syukur-syukur (bin apes lebih tepatnya) jika kameranya ikut mengambil gambar perilaku kami. Tengah malam baru kami tidur beralaskan bantalan duduk dan terbungkus sleeping bag.

Kahiyang Rangers menjadi pertolongan pertama kami dalam memindahkan raga kami dari markas menuju lokasi festival. Bermodalkan armada tetap satu unit sepeda motor pinjaman teman Imam di Ubud, kami saling memberi layanan ojek bergantian kepada sesama rangers setiap pagi, setiap hari. Terkadang bantuan armada juga datang dari Mbak Putri dan Vivi, masing-masing berupa satu unit sepeda motor matic.

Kahiyang Rangers

Foto bersama rangers malam sebelum kami bergegas pulang.

 

Group hug

Sesi orientasi terpusat selesai, aku berkumpul dengan rekan-rekan sedivisi dan Mbak Andini, supervisor kami. Saat itu aku juga berkenalan dengan Jacquelyn, seorang wanita Filipina yang menjadi partner kerjaku.

“We will have two days off in the beginning, Jacq!”, seru aku.

“Yes, that’s good, so what are you gonna do, or watch tomorrow?”, dia bertanya balik.

Hehe, I don’t know, I haven’t decided it yet. Perhaps.. tonight I will read the festival guide book and choose which to visit”, jawab aku seadanya di kepala.

Bahkan saking excited-nya akhirnya ada di tengah-tengah mereka, aku lupa memilih talkshow mana yang akan aku simak. Terlebih lagi, lega akhirnya bertemu Jacq. Artinya ternyata aku tidak akan bekerja sendirian setelah pasrah karena sampai sehari menjelang hari orientasi volunteer tiada kabar tentang Jacq di media sosial dan grup Whatsapp kecuali sekedar namanya. Pun Mbak Andini juga belum mendapat kabarnya saat itu.

Tim Divisi Workshop.

Ada tiga kelompok masing-masing menangani 3 sampai 4 jadwal workshop. Setiap duet diantara kami bertugas di tiga tempat workshop berbeda. Aku dan Jacquelyn, Madito dan Cula, Cheryl dan Gracia. Kami akan bertugas terpisah selama berjam-jam, hanya 1 jam sesi evaluasi setiap menjelang petang yang menghimpun kami. Berlapor kepada supervisor, bercerita, bergurau. Tak lupa diakhiri dengan group hug!

14925746_1352942904718730_2884096656898775758_n  photo6323171555093358572

Foto bersama Madito, Cula, Gracia, dan Jacquelyn.

***

Tiga hari aku bertugas di workshop yang paling aku minati, yaitu Writing Everyday (Susan Gregor), Researh for Novelists (Jill Dawson), dan Visual Storytelling (Agustinus Wibowo), aku jadi makin semangat menyadap ilmu di sela-sela tugas. Di dua workshop pertama, membangun kebiasaan rutin menulis dan banyak membaca hingga riset lapangan tentang suatu obyek sebelum menuliskannya. Dan yang terakhir, Agustinus Wibowo berbagi perspektif dalam fotografi, bukan hanya ilmu.

“Don’t be stuck at the (photography) rules, just use your feeling”, penuh determinasi mas Agus menjelaskan, adalah quotes paling berkesan bagiku.

Don’t be stuck at the (photography) rules, just use your feeling. (Agustinus Wibowo)

Juga, lebih sarat tentang momen dan pesan kuat dibalik foto, adalah yang aku simpulkan dari beberapa foto yang dia perlihatkan selama workshop. Momen lah yang membuat sebuah foto lebih “mahal”, lebih dari teknik fotografi itu sendiri.

“Anyway, I have just started to learn and tried to use photography rules and techniques since… maybe about April this year. I only simply used automatic setting on my camera capturing moments during years of my journeys”, santai dengan kesan polos imbuhnya.

 

A stranger

Lima hari tenggelam dalam indahnya Ubud dan sastra, aku benar-benar berada di dunia dan diantara orang-orang yang berbeda. Ternyata lautan sastra itu sangat luas, entah butuh rumus integral lipat seperti apa untuk menghitung luasnya. Bahkan hanya Agustinus Wibowo, Dewi Lestari, Shandra Woworuntu, dan Slamet Rahardjo nama-nama yang familiar di kepalaku di daftar penulis yang diundang.

Tidak terdengar lagi di telingaku, orang-orang yang membicarakan nama-nama fisikawan besar. Ahem, maksud saya “sastrawan” fisika dengan karyanya yang mendunia dan mendobrak. Sir Isaac Newton yang agung dan dihormati, James Clerk Maxwell yang friendly, Erwin Schroedinger yang puitis, Albert Einstein yang merdeka dan cinta damai, dan masih banyak lagi. Sejenak aku rindu karya mereka ada di kepala aku, di setiap lamunan, juga ratapan.

Aku benar-benar merasa sedang melancong, ke dalam diriku. Hijrah!

 

Tat Tvam Asi

Malam penutupan festival semua bereuforia. Wanita pria, tua muda, mahasiswa alumni, pekerja pengangguran, orang jauh orang dekat, eksekutif buruh, bule lokal, newcomer experienced, sendiri berkelompok, single double, lapar kenyang, sadar nge-fly. Untuk pertama kali semua orang tampak sama di mataku. Tat tvam asi!

photo6323171555093358570

Malam penutupan UWRF.

Menjadi saintis, aku perlu terbuka dalam logika dan pengetahuan. Orang-orang di sini, pecinta sastra dan seni, maupun yang berlatar belakang ilmu sosial, mengajarkanku terbuka dalam perspektif.

Advertisements

Dunia Eifer: Gelombang Gravitasi

Sementara jutaan manusia dapat menikmati belaian kerlip lampu rumah dari kejauhan, kanvas nan gemerlap, Eifer membayangkan jika kerlip tersebut sekejap segeming berdansa sedikit canggung dengan gelombang gravitasi yang berhampir entah dari belahan semesta yang mana.

Waktu dirasakan seolah melambat olehnya namun tak sampai benar-benar berhenti. Ruang-ruang di sekeliling kepalanya kini tampak saling mendekat, beririsan di depannya namun tak sampai benar-benar bergabung. Mozaik.

Dia tahu dia mulai merasakan mereka sedang berdansa di depan sana, namun tak melihat.

Sekejap terhanyut irama dansa mereka, seketika pula butiran kecil bercahaya berhamburan menerpa wajahnya. Beberapa, sedikit dari keseluruhan, sempat dia sapa & coba dia kenali satu per satu.

Mereka semua bernama foton. Katanya, mereka telah berdansa dengan, entah sejenis peri atau hantu.

 

Lampu rumah

Eifer tersenyum. Namun pandangannya semakin meredup, seolah sebagian foton lain yang baru tiba menghindar dari jangkauan pandangannya, menolak untuk dikenali olehnya lebih jauh.

Oh tidak. Dia mulai mengantuk.

 

231017

Orang Baik

Ide tulisan ini berhulu dari sebuah kata mutiara, yang sengaja saya kutip di akhir saja, sebagai penutup. Kemudian dari sumber di hulu, air mengalir dan bermuara di hilir dengan membawa berbagai mineral-mineral ide. Mineral yang entah bagaimana hubungan kausalitasnya dengan mata air di hulu, tidak lagi penting bagi saya. Yang terpenting adalah air bermineral ini dapat diminum. Anda boleh menebak kata mutiara tersebut sejak paragraf pembuka ini karena mungkin Anda pernah minum mata air yang sama.

***

Menjadi orang baik adalah harapan yang populer dalam hidup, terdengar sederhana namun bermakna. Begitulah setidaknya, selama orang-orang masih menganggap bahwa kebaikan akan membawa kebahagiaan, dan mereka percaya bahwa kebaikan akan muncul dari dan pergi kepada orang yang baik. Sementara juga ada yang beranggapan bahwa menjadi orang baik adalah keharusan, hingga keniscayaan. Apapun itu anggapannya, kita sebaiknya tidaklah kita lupa bahwa kebaikan tidak berdiri sendiri. Kebaikan hadir di dunia ini ditemani oleh keburukan dengan kadar tertentu, meskipun mereka berdua tentu tidak berteman baik.

“Negeri ini tak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang baik”, kata mutiara yang cukup menggugah, sekaligus menyadarkan bahwa orang baik kini dirasakan telah menjadi spesies langka. Tapi bukan ini kutipan yang saya singgung di paragraf pembuka di atas. Melihat keadaan ini tidak heran jika orang baik di zaman sekarang ini sering diidolakan, dipuja, diharap-harapi, ataupun hingga didewakan. Seolah sosok orang baik tersebut menjadi tolok ukur tunggal kebaikan bagi orang baik lainnya, yang bisa juga termasuk dirinya sendiri. Satu sama lain, disepadankan atau dibandingkan secara langsung maupun tidak. Apapun itu bentuk ukurannya, kita sebaiknya tidak lupa bahwa kebaikan itu relatif, dan sangat luas meskipun kadang ukuran kebaikan bisa saja menjadi definitif dan sempit saat dihadapkan dengan ukuran keburukan.

Orang baik bukan berarti tidak melakukan kesalahan. Lalu keburukan? Jangan ditanya, pasti punya. Namun mungkin kesalahannya itu dinilai (relatif) kecil, sehingga tertutupi oleh kebaikannya. Namun mungkin keburukannya itu (relatif) tak nampak, sehingga tak mengganggu pandangan terhadap kebaikannya. Dan masih banyak lagi kemungkinannya. Apapun itu kemungkinannya sebaiknya tidaklah kita lupa bahwa kebaikan dan keburukan/kesalahan bukanlah pasangan proton-elektron, yang saling mengurangkan muatannya. Bukan juga pasangan partikel-antipartikel yang saling meniadakan saat dibenturkan. Mereka akan ada bersamaan. Cuma manakah dari keduanya yang lebih berenergi, nampak, dan ditampakkan. Oleh karenanya, dikenal istilah ‘aib’. Keburukan yang perlu dirahasiakan, dijaga, dan dijinakkan.

“Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”, kata mutiara yang mengingatkan untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak baik sekecil apapun. Tapi juga, masih bukan ini kutipan yang saya singgung di paragraf pembuka di atas. Alih-alih mengingatkan kita akan hal tersebut, kata mutiara ini boleh jadi juga dijadikan sebagai pembenaran untuk (dengan mudah) meniadakan kebaikan orang lain semanis dan sebaik nutrisi susu jika itu sudah bercampur dengan keburukan walau hanya setitik nila. Kemudian, memenangkan bayang-bayang keburukan itu untuk menjajah pandangan kita. Lebih kejam dan represif daripada pasangan proton-elektron dan materi-antimateri. Apapun itu bentuk kekejaman dan represifnya, kita sebaiknya tidak lupa bahwa setitik nila sesungguhnya tidak mengubah susu. Mereka hanya bercampur. Butiran, molekul nila berhimpitan dengan molekul susu. Namun memang, air susu bernila kini tak bisa diminum.

Lantas jika demikian, apakah Anda akan meminumnya? Tentu tidak. Jika kemudian Anda tetap nekat meminumnya, itu akan menjadi masalah bagi Anda. Masih ingin meminumnya? Sebaiknya siapkan filter yang ampuh meskipun tidak mudah mencarinya. Jika tidak ada, biarkan sejenak air susu bernila tersebut. Cobalah mulai bertanya, mengapa “air susu dan nila tersebut bisa tercampur”? Memang dari sananya kah sudah tercampur, atau tanpa sadar justru kita sendiri lah yang mencampurnya di dalam pikiran kita? Kadang kita sendirilah yang harus menjaga dan mengendalikan pikiran kita dalam menilai seseorang. Masih tak menemukan jawaban memuaskan? Sebaiknya tinggalkan air susu bernila tersebut. Tidak meninggalkan kesan apapun terhadap seseorang itu lebih baik daripada meninggalkan kesan tertentu namun tidak pada takaran semestinya. Lalu, coba tataplah segelas air susu yang lain.

Mengidolakan dan memuja orang baik tentu dapat berpengaruh positif, misalnya menjadi terinspirasi dan tergerak untuk melakukan kebaikan yang sama yang orang baik tersebut pernah lakukan. Namun mengidolakan dan memuja orang baik tidak selamanya baik jika kita melupakan hal-hal yang sebaiknya tak dilupakan seperti disebutkan diatas. Terlebih lagi mendewakannya karena hal tersebut justru tidak memanusiakan orang baik sebagai sesama manusia juga. Bisa jadi, orang baik akan benar-benar menjadi spesies endemik jika kita telalu subyektif, perfeksionis, sebelah sisi, dan lamat-lamat memandang kebaikannya tersebut. Terseleksi alam dalam semesta pikiran kita oleh ekspektasi yang berlebihan dan pemujaan tanpa batas atau fanatisme. Keduanya tanpa sadar mempersempit definisi dari orang baik.

Bagaimanapun baiknya, orang baik tetaplah manusia dengan keburukan dan kesalahan yang dia punya, yang mungkin sengaja tidak dia tampakkan, yang mungkin belum kita ketahui, yang mungkin tidak ingin kita lihat, atau yang mungkin telah kita abaikan.

Daripada melakukan hal yang dapat memicu seleksi alam tersebut, mengapa tidak kita berpikiran dan mulai belajar untuk menjadi orang baik juga (sesuai karakter dan jalan hidup masing-masing)? Itu akan menambah diversitas spesies orang baik yang ada selama ini, dan melestarikannya. Semua orang baik patut diidolakan dan dipuja dengan bijak, termasuk mungkin, juga diri kita sendiri jika kita memang layak merasa demikian.

Mari mengidolakan dan memuja orang baik dengan tanpa membuat batas tebal antara kita dan sosok idola dalam hal kualitas diri. Mari ikut serta menjadi orang baik. Menjadi yang terbaik adalah hak semua orang tak peduli dimana titik awal dia memulainya.

Namun, jika seleksi alam tersebut sengaja tak sengaja, sadar tak sadar, sudah terlanjur terjadi, ingatlah kutipan penutup ini.

Percayalah masih banyak orang baik yang bisa dititipkan untuk mengelola republik ini. (***)

Karena boleh jadi, semoga orang baik yang menjadi disebutkan di kutipan tersebut adalah diri kita. Kita semua.

 

(Bandung, 11 Mei 2017)

 

*** Sebuah nama. Dengan hormat, dalam tulisan ini sengaja tak disebutkan agar kita senantiasa mencoba meneladani kebaikan dari siapapun.

Munajat

Banyak yang bertanya dan heran mengapa saya sholat tidak sebentar. Saya enggan menulis secara eksplisit, “lama”, karena tidak ingin seolah “waktu yang lama” menjadi penekanan utama. Bukan itu. It’s not duration which matters to me. Itu hanyalah sebuah konsekuensi dari apa yang saya anggap penting dalam sholat. Jika dihitung, mungkin biasanya bisa sampai 10 menit. Atau lebih, ditambah sekitar 5 menit. Menjadi hanya 15 menit, relatif sebentar jika dibanding 24 jam. Saya sendiri jarang menghitung durasi saya melakukan sholat. But it’s about an essence.

Pertanyaan dan ekspresi keheranan terhadap hal ini pun beragam, semenjak zaman kuliah hingga kini.

“Man, lo kalau sholat baca surat apa aja sih kok lama banget? Yasin?”, tanya si Fulan seusai kami sholat sambil saya memakai sepatu di depan mushola kampus.

Sampeyan barusan sholat isya’ apa tarawih mas? Udah sekalian witir juga?”, canda adik kelas si Fulansyah setelah lama nunggu saya selesai sholat.

“Kalau bisa jangan lama-lama ya bro jadi imam-nya..hehe”, pinta si Fulanbro sesaat sebelum sholat jamaah.

Ah jangan Firman dong imamnya. Please, gua abis ini ada acara nih, hahaha”, canda blak-blakan penuh kejujuran si Fulanto yang tampak sedang terburu-buru sambil bersiap mendedikasikan diri sebagai makmum.

“Sholatnya lama amaat, sekalian minta jodoh ya? “, canda juga beberapa Fulanwati setelah menunggu gantian mushola, di tempat saya mengajar sekarang. Ini yang terbaru.

Tak hanya teman-teman dan kolega, beberapa orang dari keluarga saya pun juga sempat heran dan bertanya serupa.

Kejadian paling lucu pernah terjadi tahun lalu, saat saya sedang mengimami sholat bersama adik saya yang masih SD. Dia duduk tepat di sebelah kanan saya. Sampai di tahiyat akhir, karena tidak sabar untuk segera mengakhiri sholat atau bacaan salam, dia lantas memegang lengan bawah tangan kanan saya dengan tangan kirinya. Seraya bekata lirih “mas, cepetan..” sambil menggoyang pelan tangan saya. Sesudah salam, senyum saya tak tertahan merekah. Memang, sholat saya terlalu lama untuk ukuran anak kecil.

Saya pun juga tersenyum, terkekeh setiap kali pertanyaan dan keheranan tersebut diungkapkan. Kadang juga membalas dengan berekspresi santai, cool. Kemudian meminta maaf karena tidak semua orang, mungkin juga cukup sedikit, yang terbiasa dan merasa nyaman dengan sholat lebih lama dari standar waktu kebiasaan orang pada umumnya. Dalam sholat jamaah saya juga mengerti sebaiknya imam tidak terlalu berlama-lama karena mungkin diantara makmumnya ada yang tidak kuat secara fisik untuk berdiri lama atau lanjut usia. Mungkin masalah standar waktu kebiasaan pribadi saja yang perlu disesuaikan. Boleh dikoreksi bila saya salah.

Namun sama sekali tidak ada yang salah dengan pertanyaan dan keheranan tersebut, karena sebagian dari mereka yang mengungkapkan saya tahu itu bercanda. Sebaliknya, saya senang dan bersyukur mereka bertanya dan heran demikian, sehingga saya terdorong untuk berbagi pandangan. Sebagian kecil dari mereka pernah saya ajak berdiskusi singkat sebelumnya. Mungkin yang akan saya utarakan di sini bukan juga hal yang pertama terdengar.

Kini saya coba mulai rangkumkan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dan keheranan-keheranan tersebut di momen yang masih hangat oleh peringatan Isra’ Mikraj, yang termasuk di dalamnya peristiwa turunnya perintah sholat wajib.

Oh iya, mohon dicatat, tulisan ini tidak sedang menjustifikasi siapapun, termasuk diri saya. Semoga karena tulisan ini, tidak lantas membuat saya tampak lebih baik dan alim dari siapapun, ataupun sebaliknya. Ini semua pandangan subyektif.

***

Saya baca surat apapun sesuai yang disyariatkan yang saya hafal, yang pendek maupun panjang, yang penting tahu artinya. Tidak harus tahu arti per kata, yang penting keseluruhan makna per ayatnya saya mengerti betul. Saya terbiasa mengucapkan (dalam hati) bacaan sholat dengan cukup santai. Sesantai, sebagaimana kita berbicara dengan orang lain. Maksudnya, secara tempo seperti ngobrol dengan teman dalam percakapan sehari-hari. Hal itu memudahkan saya untuk mengucapkan dalam hati bacaan sholat sambil meresapi maknanya. Makna ya, bukan selalu arti per kata. Memang ada ayat dan surat tertentu, karena terbiasa dan hafal, saya dapat mengartikannya per kata. Saya tahu memang tak mudah untuk membagi pikiran dan hati untuk berbicara dalam Bahasa Arab sekaligus membisikkan maknanya dalam Bahasa kita sendiri. Apalagi mengartikannya per kata, akan menyita pikiran dan dapat membuat tidak khusyuk. Oleh karenanya saya memilih meresapi maknanya, disamping bila memungkinkan mengartikan setiap katanya. *Bersyukurlah bagi Anda yang saat ini sudah mengerti Bahasa Arab.

Sejak kapan dan mengapa saya mulai berpikiran untuk melakukannya dalam sholat?

Ada momen saat saya hampir menginjak usia 20, saat akhirnya saya mulai sadar bahwa sholat saya mungkin tidak ada esensinya jika yang saya baca hanyalah sesuatu yang keluar dari mulut belaka, tanpa mengerti apa makna yang sedang dibaca. Saya saat itu coba bayangkan, jika itu saya lakukan kepada rekan, kerabat, atau orang lain, yaitu berbicara, berkomunikasi tanpa mengerti apa yang keluar dari mulut, tentu komunikasi terasa hampa dan retorik. Nah sholat ini, berarti sedang berkomunikasi dengan Tuhan loh. Berbicara dengan orang yang dicinta saja kita bisa konsentrasi, mengatur tempo, mengatur bicara, mengatur napas, menahan waktu, memandangi matanya, dan fokus pada kehadirannya. Namun mengapa saat sholat, kita justru enggan, tak terpikirkan untuk, atau belum lakukan itu?

Jangankan dengan Tuhan, dengan sesama manusia saja kita sepatutnya mengerti, sadar, dan bertanggung jawab atas apa yang sedang kita ucapkan. Apalagi jika saat sedang berkomunikasi dengan Tuhan?

Saya tidak sedang membandingkan secara setara esensi berkomunikasi manusia, antara dengan sesamanya dan dengan Tuhannya. Jelas berbeda. Posisi sholat di sini wajib. Bagaimanapun kita memandangnya, sholat tetap harus dilakukan. Namun semoga nalar sederhana tersebut dapat membantu kita merenung lebih mendalam tentang arti sholat. Tuhan memang Maha Mengetahui, namun bukan berarti kita meremehkan dan tak peduli dengan bacaan sholat kita.

Cuma bedanya dengan berkomunikasi dengan manusia, saat sholat secara teknis kita seolah sedang berbicara sendiri dalam hati, tanpa bersuara keras. Tapi yakinlah bahwa Tuhan sedang mendengar dan menyimak apa yang kita lantunkan dalam hati. Saya selalu berusaha menggetarkan, tentu dalam batas kemampuan manusia dan tak berlebihan, bahwa selama sholat saya beserta raga dan ruh adalah sedang berkomunikasi dengan Yang Maha Dekat. Bahkan saya tak ingin menyia-nyiakan waktu tersebut, seolah tak ingin waktu sholat itu cepat berlalu. Seperti sedang ngobrol dengan orang-orang terdekat maupun idola, kita menatap matanya, seolah ingin menahan waktu, dan menikmati momen. Kenikmatan momen dalam sholat ini kemudian saya artikan sebagai khusyuk.

Pada praktiknya tak selalu mudah. Menyelaraskan pikiran dan hati untuk berjalan di satu jalan yang sama tidak semudah mengendalikan kemudi kendaraan, terutama pikiran, karena disanalah sumber gangguan ketenangan hati. Oleh karenanya saya berusaha menjinakkan pikiran terlebih dahulu sebelum memulai sholat, terutama jika sholat tersebut saat di tengah waktu kerja atau aktivitas yang menyita pikiran. Saya memulai menjinakkan pikiran dengan wudhu yang benar. Bacaan niat wudhu pun tak luput saya resapi juga maknanya. Setiap aliran sejuk air wudhu di lapisan kulit yang dibasuh juga saya nikmati.

Saya juga bukan orang yang selalu tepat di awal waktu untuk melakukan sholat, meskipun tentu di awal waktu adalah yang paling utama. Namun saya berusaha siap jiwa raga untuk menghadap, bermunajat kepada-Nya. Saya juga berusaha fokuskan sholat saya hanya untuk menghamba kepada-Nya, tidak untuk mengharap diberikan sesuatu, misalkan sukses di dunia, jodoh, termasuk juga masuk surga. Sholat dengan berusaha hanya mengharap ridho-Nya.

Saya menganggap sholat adalah upaya untuk bertamu kepada-Nya, atau hanya sekedar ingin lewat di depan dan menengok “pelataran istana-Nya”. Tak perlu berpikiran apakah kita akan diterima dan diberikan (atau dijamu) sesuatu oleh-Nya atau tidak. Itu semua hak prerogatif-Nya. Cukuplah yakin, kalau kita berniat baik untuk bertamu dan berbicara, kita pasti akan diterima.

Barulah saat selesai sholat, doa-doa atas keinginan dan harapan kita panjatkan, sesuai yang dianjurkan. Berdoa setelah sholat, bukan selama sepanjang sholat (kecuali saat sujud dan setelah bacaan tahiyat akhir) karena bacaan sholat sendiri sebagian besar sudah merupakan doa.

Namun seringkali yang menjadi masalah jika sholat berjamaah, terutama saat menjadi imam. Saat menjadi makmum bagi saya tidak masalah jika bacaan imam saya lebih cepat. Saya masih bisa mengikuti. Karena meskipun bacaan sholat saya belum selesai namun imam sudah akan berpindah gerakan, saya bisa mencoba menyelesaikan sisa bacaan dalam bentuk pemaknaan, tidak dibaca per kata cepat-cepat. Sedangkan saat menjadi imam, saya perlu beradaptasi dengan kebiasaan makmum saya, ada yang biasa cepat, ada juga yang biasa lama. Namun terlepas dari itu semua, saat sholat berjamaah telah disunnahkan untuk tidak terlalu berlama-lama. Saya pun mematuhi dan berusaha mempercepat bacaan saya dari biasanya. Saya bisa mereduksi lama waktu sholat saya hingga 3/5-nya untuk saat menjadi imam. Itu juga kadang masih dirasa lama oleh makmum, dan saya mohon maaf, hehe.

Terlebih inti lagi dan menuju simpulan, akhirnya saya berpikiran bahwa tak penting mempermasalahkan berapa lama waktu sholat kita. Lamanya sholat juga tidak serta merta menjamin kekhusyuknya. Pertanyaan terpenting adalah sudahkah kita merasa khusyuk dengan waktu sholat kita selama ini bagaimanapun lama atau sebentarnya? Yang bisa menilai kebutuhan akan lamanya waktu kita sholat adalah masing-masing dari kita sendiri. Bahkan setiap orang akan punya metode atau kiatnya sendiri untuk bisa membuat sholatnya menjadi nyaman. Saya memilih dan terbiasa sholat dengan durasi waktu yang tidak sebentar karena begitulah kebutuhan sholat saya, juga salah satu cara untuk mencapai khusyuk. Saya telah menemukan titik nyaman tersebut, sementara untuk saat ini. Mengapa sementara? Karena kebiasaan ini bisa saja berubah, tergantung apa yang saya rasakan dan temukan dari diri saya di kemudian hari. Yang penting tidak lupa walaupun kita sudah merasa benar dan damai, belajar mengenal diri sendiri dan diri-Nya akan berlangsung sampai kapanpun.

Akhir kata, selamat mendirikan sholat. Selamat bermunajat kepada-Nya.

(Bandung, 24 April 2017)

*Komentar, kritik, dan saran terhadap tulisan ini dapat disampaikan pada kolom komentar atau email: firmaniqrob@gmail.com. Saya membuka diskusi konstruktif dengan teman-teman pembaca. Salam.

Hikayat Sebuah Nama (Sebuah Cerpen)

Pagi itu… di jalanan kota tapal kuda, Rul, begitulah panggilan lelaki dan juga sekaligus ayah dua anak itu, mengarungi medan rezeki dengan sepeda motor bututnya menuju kampus Universitas Jember. Di tahun 1991, bebek besi yang dia kendarai mungkin belumlah terlalu butut, baginya masih terbilang ‘wuah’. Ya, motor kelas ‘merakyat dan alhamdulillah, masih punya kendaraan. Sebagai tenaga ahli di laboratorium komputer pertama di kota itu, dia memikul tanggung jawab finansial terhadap istri dan dua anak yang masih belum menginjak sekolah dasar. Tampak seperti keluarga idaman pemerintah ya, dua anak saja lebih baik.

Ah astaga, ada yang terlupakan. Satu janin berusia 6 bulan di perut istrinya haruslah juga diingat akan menambah satu lagi tanggung jawab penafkahannya kelak. Saat itu belum ada instalasi USG di semua rumah sakit di penjuru kota. “Perempuan? Atau laki-laki lagi?” dalam batinnya. Dua anak laki-laki nampaknya saat itu sudah cukup beralasan untuk membuatnya berharap anak perempuan akan lahir berikutnya dari rahim istrinya. Masihlah wajar, hanya sebatas berharap, toh laki-laki atau perempuan tentu akan disyukuri.

***

Sementara di rumah, An, panggilan istrinya, sudah menyiapkan beberapa baju perempuan seukuran bayi dan balita sebagai upaya terbaik untuk menyambut kelahirannya bayinya nanti. Kabar itu juga telah mampir di telinga ibu-ibu di sekitar rumah. Kadangkala sambil menjahit, yang merupakan hobi dan keahliannya, dia berangan-angan seorang bayi perempuan tertidur di timangannya. Satu baju, dua sampai lima potong per hari pun bisa dia selesaikan tak lepas dari angan celoteh suara anak perempuan. Beberapa baju juga ada yang beli di pasar. Belum lagi juga menyiapkan ‘gudhangan’ khusus anak perempuan, yang berbeda dari ‘gudhangan’ untuk kedua anak laki-lakinya dahulu. Seorang ibu selalu menjadi orang yang paling sibuk untuk urusan persiapan kelahiran bayi. Lahir dan batin. Tentu.

***

Namun terlebih dalam bagi Rul, bukan hanya jenis kelamin anak ketiganya yang menjadi pikiran dan harap di benaknya. Ada sesuatu lain yang lebih mendalam. Lebih filosofis mengenai fitrah dirinya sebagai manusia.

Di kultur Islam Jawa, memiliki kenalan atau sosok panutan agama berupa kyai atau ustadz adalah hal yang lumrah. Bahkan tidak heran jika ada orang yang cukup bersandar nasehat dan kyai panutannya.

Wistah, lakonono, nuruto wae opo jare kyai A. (sudahlah, lakukan, patuhi saja apa kata kyai A.)”, “Ojo lali nyuwuno dungone pak ustadz B ben lancar urusanmu. (mintalah doanya pak ustadz B agar lancar urusanmu.)”, adalah contoh kata-kata yang sering diucapkan orang tua kepada anaknya atau sesama kerabatnya. Namun bagi Rul hal itu tidaklah biasa demikian. Dia tak ingin melakukan sesuatu hanya semata-mata karena percaya atau asal nurut pada sosok ustadz dan kyai. Dia ingin yakin karena dari dalam hatinya.

Latar belakang religius keluarganya yang cukup disiplin dan konservatif ternyata belum cukup membuat dia merasa telah menemukan Tuhannya, atau setidaknya bertemu bayangan-Nya. Alih-alih tampil alim dan kalem dengan aura ulama, dia justru menjadi pemuda moderat dan persuasif dengan aura aktivis bisnis.

‘Siapakah manusia?’, ‘dimanakah Tuhan?’ dan ‘mengapa manusia diwajibkan shalat?’ adalah contoh pertanyaan-pertanyaan ‘liar’ yang telah lama ada di dalam benaknya. Alhasil pertanyaan tersebut kemudian mengantarkan raga dan pikirannya dalam diskusi panjang dengan beberapa kyai dan ustadz yang dia kenal. Namun dia belum terpuaskan.

Oposih sing sakbenere kudu tak goleki teko urip neng dunyo iki (apasih yang sebenarnya harus saya cari dari hidup di dunia ini)?” tanya dalam dirinya sesekali dalam simpuh seusai shalat, renungan di kala petang, perjalanan menuju rumah, serta pejaman mata sebelum malam mulai menghimpun lelapnya. Tidak lain adalah petunjuk-Nya yang benar-benar dia harap.

***

Cahaya itu pun akhirnya perlahan dan bertahap muncul.

Dzikir dengan mengharap ridho-Nya adalah jawaban terbaik, atau hal yang akan mampu menjawab semua tanya yang entah berapa kali telah berthowaf dan beresonansi dalam ruang pikirannya.

Dzikir esensinya adalah mengingat Allah.

Bismillah’, adalah contoh dzikir yang paling sederhana dan terbanyak diucapkan melalui lisan maupun dalam batin.

Namun seringkali dengan tanpa sadar betapa besarnya makna satu kata itu bila dihayati. Dalam satu kata yang bisa kurang dari sedetik untuk diucap itu tersimpan makna kerelaan seorang hamba yang hanya mengharap ridho-Nya. Meluaskan hati.

Silaunya cahaya ini membuat Rul ingin menegaskan syukurnya pada hari sebuah nama disematkan.

***

Pagi cerah di ujung Agustus, tak sampai dua jarum jam dinding berimpit membujur membentuk garis vertikal, dia dan istrinya harus bergegas keluar rumah, menghadang angkutan umum yang masih kosong. Tanpa pikir panjang sopir langsung melajukan mobilnya, kencang menuju rumah sakit, sekitar 5 kilometer dari rumah dengan hanya mereka berdua sebagai penumpang. Layaknya penumpang VIP!

Hampir, sangat hampir ternobatkan untuk pertama kalinya menyapa dunia dan masuk angin di sebuah mobil Carry warna kuning yang pintunya terbuka, bayi yang ditunggu pun terlahir normal dan cepat di ruang bersalin. Bahkan sang bidan yang baru selesai gosok gigi, terlihat dari sedikit ‘makeup’ sisa busa pasta gigi di sekitar bibirnya, pun belum sempat mengucapkan sepatah mantra sakti “tahan”, “tarik napas”, dan sebagainya, seorang bayi telah lahir atas usaha keras ibunya. Mungkin sebagian juga karena keinginan sang bayi, sudah tak sabar untuk melihat dunia.

Yes, laki-laki. Lagi.

Baju bayi dan balita yang telah dipersiapkan akhirnya diestafetkan cuma-cuma kepada ibu-ibu sekitar rumah dan kerabat yang juga menantikan lahirnya seorang bayi perempuan. Jenis kelamin tak lama hari kemudian bukan menjadi persoalan karena terlebih dalam itu, hati dan ruh yang ada di dalamnyalah yang terpenting.

Oh iya, bayi itu kemudian diberi nama Firman Iqro’ Bismillah, sesuai yang ayahnya inginkan.

Di balik rangkaian kata yang langka untuk sebuah nama itu, ternyata banyak celoteh lucu dihasilkan oleh pemiliknya selama masa kecilnya, hingga kini selalu dikisahkan setiap tahun oleh sanak keluarganya. (Bersambung)

(Bandung, 23 September 2016)

*Cerita ini saya susun bersama tokoh utama