Orang Baik

Ide tulisan ini berhulu dari sebuah kata mutiara, yang sengaja saya kutip di akhir saja, sebagai penutup. Kemudian dari sumber di hulu, air mengalir dan bermuara di hilir dengan membawa berbagai mineral-mineral ide. Mineral yang entah bagaimana hubungan kausalitasnya dengan mata air di hulu, tidak lagi penting bagi saya. Yang terpenting adalah air bermineral ini dapat diminum. Anda boleh menebak kata mutiara tersebut sejak paragraf pembuka ini karena mungkin Anda pernah minum mata air yang sama.

***

Menjadi orang baik adalah harapan yang populer dalam hidup, terdengar sederhana namun bermakna. Begitulah setidaknya, selama orang-orang masih menganggap bahwa kebaikan akan membawa kebahagiaan, dan mereka percaya bahwa kebaikan akan muncul dari dan pergi kepada orang yang baik. Sementara juga ada yang beranggapan bahwa menjadi orang baik adalah keharusan, hingga keniscayaan. Apapun itu anggapannya, kita sebaiknya tidaklah kita lupa bahwa kebaikan tidak berdiri sendiri. Kebaikan hadir di dunia ini ditemani oleh keburukan dengan kadar tertentu, meskipun mereka berdua tentu tidak berteman baik.

“Negeri ini tak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang baik”, kata mutiara yang cukup menggugah, sekaligus menyadarkan bahwa orang baik kini dirasakan telah menjadi spesies langka. Tapi bukan ini kutipan yang saya singgung di paragraf pembuka di atas. Melihat keadaan ini tidak heran jika orang baik di zaman sekarang ini sering diidolakan, dipuja, diharap-harapi, ataupun hingga didewakan. Seolah sosok orang baik tersebut menjadi tolok ukur tunggal kebaikan bagi orang baik lainnya, yang bisa juga termasuk dirinya sendiri. Satu sama lain, disepadankan atau dibandingkan secara langsung maupun tidak. Apapun itu bentuk ukurannya, kita sebaiknya tidak lupa bahwa kebaikan itu relatif, dan sangat luas meskipun kadang ukuran kebaikan bisa saja menjadi definitif dan sempit saat dihadapkan dengan ukuran keburukan.

Orang baik bukan berarti tidak melakukan kesalahan. Lalu keburukan? Jangan ditanya, pasti punya. Namun mungkin kesalahannya itu dinilai (relatif) kecil, sehingga tertutupi oleh kebaikannya. Namun mungkin keburukannya itu (relatif) tak nampak, sehingga tak mengganggu pandangan terhadap kebaikannya. Dan masih banyak lagi kemungkinannya. Apapun itu kemungkinannya sebaiknya tidaklah kita lupa bahwa kebaikan dan keburukan/kesalahan bukanlah pasangan proton-elektron, yang saling mengurangkan muatannya. Bukan juga pasangan partikel-antipartikel yang saling meniadakan saat dibenturkan. Mereka akan ada bersamaan. Cuma manakah dari keduanya yang lebih berenergi, nampak, dan ditampakkan. Oleh karenanya, dikenal istilah ‘aib’. Keburukan yang perlu dirahasiakan, dijaga, dan dijinakkan.

“Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”, kata mutiara yang mengingatkan untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak baik sekecil apapun. Tapi juga, masih bukan ini kutipan yang saya singgung di paragraf pembuka di atas. Alih-alih mengingatkan kita akan hal tersebut, kata mutiara ini boleh jadi juga dijadikan sebagai pembenaran untuk (dengan mudah) meniadakan kebaikan orang lain semanis dan sebaik nutrisi susu jika itu sudah bercampur dengan keburukan walau hanya setitik nila. Kemudian, memenangkan bayang-bayang keburukan itu untuk menjajah pandangan kita. Lebih kejam dan represif daripada pasangan proton-elektron dan materi-antimateri. Apapun itu bentuk kekejaman dan represifnya, kita sebaiknya tidak lupa bahwa setitik nila sesungguhnya tidak mengubah susu. Mereka hanya bercampur. Butiran, molekul nila berhimpitan dengan molekul susu. Namun memang, air susu bernila kini tak bisa diminum.

Lantas jika demikian, apakah Anda akan meminumnya? Tentu tidak. Jika kemudian Anda tetap nekat meminumnya, itu akan menjadi masalah bagi Anda. Masih ingin meminumnya? Sebaiknya siapkan filter yang ampuh meskipun tidak mudah mencarinya. Jika tidak ada, biarkan sejenak air susu bernila tersebut. Cobalah mulai bertanya, mengapa “air susu dan nila tersebut bisa tercampur”? Memang dari sananya kah sudah tercampur, atau tanpa sadar justru kita sendiri lah yang mencampurnya di dalam pikiran kita? Kadang kita sendirilah yang harus menjaga dan mengendalikan pikiran kita dalam menilai seseorang. Masih tak menemukan jawaban memuaskan? Sebaiknya tinggalkan air susu bernila tersebut. Tidak meninggalkan kesan apapun terhadap seseorang itu lebih baik daripada meninggalkan kesan tertentu namun tidak pada takaran semestinya. Lalu, coba tataplah segelas air susu yang lain.

Mengidolakan dan memuja orang baik tentu dapat berpengaruh positif, misalnya menjadi terinspirasi dan tergerak untuk melakukan kebaikan yang sama yang orang baik tersebut pernah lakukan. Namun mengidolakan dan memuja orang baik tidak selamanya baik jika kita melupakan hal-hal yang sebaiknya tak dilupakan seperti disebutkan diatas. Terlebih lagi mendewakannya karena hal tersebut justru tidak memanusiakan orang baik sebagai sesama manusia juga. Bisa jadi, orang baik akan benar-benar menjadi spesies endemik jika kita telalu subyektif, perfeksionis, sebelah sisi, dan lamat-lamat memandang kebaikannya tersebut. Terseleksi alam dalam semesta pikiran kita oleh ekspektasi yang berlebihan dan pemujaan tanpa batas atau fanatisme. Keduanya tanpa sadar mempersempit definisi dari orang baik.

Bagaimanapun baiknya, orang baik tetaplah manusia dengan keburukan dan kesalahan yang dia punya, yang mungkin sengaja tidak dia tampakkan, yang mungkin belum kita ketahui, yang mungkin tidak ingin kita lihat, atau yang mungkin telah kita abaikan.

Daripada melakukan hal yang dapat memicu seleksi alam tersebut, mengapa tidak kita berpikiran dan mulai belajar untuk menjadi orang baik juga (sesuai karakter dan jalan hidup masing-masing)? Itu akan menambah diversitas spesies orang baik yang ada selama ini, dan melestarikannya. Semua orang baik patut diidolakan dan dipuja dengan bijak, termasuk mungkin, juga diri kita sendiri jika kita memang layak merasa demikian.

Mari mengidolakan dan memuja orang baik dengan tanpa membuat batas tebal antara kita dan sosok idola dalam hal kualitas diri. Mari ikut serta menjadi orang baik. Menjadi yang terbaik adalah hak semua orang tak peduli dimana titik awal dia memulainya.

Namun, jika seleksi alam tersebut sengaja tak sengaja, sadar tak sadar, sudah terlanjur terjadi, ingatlah kutipan penutup ini.

Percayalah masih banyak orang baik yang bisa dititipkan untuk mengelola republik ini. (Anies R. Baswedan)

Karena boleh jadi, semoga orang baik yang disebutkan di kutipan tersebut adalah diri kita. Kita semua.

 

(Bandung, 11 Mei 2017)

Munajat

Banyak yang bertanya dan heran mengapa saya sholat tidak sebentar. Saya enggan menulis secara eksplisit, “lama”, karena tidak ingin seolah “waktu yang lama” menjadi penekanan utama. Bukan itu. It’s not duration which matters to me. Itu hanyalah sebuah konsekuensi dari apa yang saya anggap penting dalam sholat. Jika dihitung, mungkin biasanya bisa sampai 10 menit. Atau lebih, ditambah sekitar 5 menit. Menjadi hanya 15 menit, relatif sebentar jika dibanding 24 jam. Saya sendiri jarang menghitung durasi saya melakukan sholat. But it’s about an essence.

Pertanyaan dan ekspresi keheranan terhadap hal ini pun beragam, semenjak zaman kuliah hingga kini.

“Man, lo kalau sholat baca surat apa aja sih kok lama banget? Yasin?”, tanya si Fulan seusai kami sholat sambil saya memakai sepatu di depan mushola kampus.

Sampeyan barusan sholat isya’ apa tarawih mas? Udah sekalian witir juga?”, canda adik kelas si Fulansyah setelah lama nunggu saya selesai sholat.

“Kalau bisa jangan lama-lama ya bro jadi imam-nya..hehe”, pinta si Fulanbro sesaat sebelum sholat jamaah.

Ah jangan Firman dong imamnya. Please, gua abis ini ada acara nih, hahaha”, canda blak-blakan penuh kejujuran si Fulanto yang tampak sedang terburu-buru sambil bersiap mendedikasikan diri sebagai makmum.

“Sholatnya lama amaat, sekalian minta jodoh ya? “, canda juga beberapa Fulanwati setelah menunggu gantian mushola, di tempat saya mengajar sekarang. Ini yang terbaru.

Tak hanya teman-teman dan kolega, beberapa orang dari keluarga saya pun juga sempat heran dan bertanya serupa.

Kejadian paling lucu pernah terjadi tahun lalu, saat saya sedang mengimami sholat bersama adik saya yang masih SD. Dia duduk tepat di sebelah kanan saya. Sampai di tahiyat akhir, karena tidak sabar untuk segera mengakhiri sholat atau bacaan salam, dia lantas memegang lengan bawah tangan kanan saya dengan tangan kirinya. Seraya bekata lirih “mas, cepetan..” sambil menggoyang pelan tangan saya. Sesudah salam, senyum saya tak tertahan merekah. Memang, sholat saya terlalu lama untuk ukuran anak kecil.

Saya pun juga tersenyum, terkekeh setiap kali pertanyaan dan keheranan tersebut diungkapkan. Kadang juga membalas dengan berekspresi santai, cool. Kemudian meminta maaf karena tidak semua orang, mungkin juga cukup sedikit, yang terbiasa dan merasa nyaman dengan sholat lebih lama dari standar waktu kebiasaan orang pada umumnya. Dalam sholat jamaah saya juga mengerti sebaiknya imam tidak terlalu berlama-lama karena mungkin diantara makmumnya ada yang tidak kuat secara fisik untuk berdiri lama atau lanjut usia. Mungkin masalah standar waktu kebiasaan pribadi saja yang perlu disesuaikan. Boleh dikoreksi bila saya salah.

Namun sama sekali tidak ada yang salah dengan pertanyaan dan keheranan tersebut, karena sebagian dari mereka yang mengungkapkan saya tahu itu bercanda. Sebaliknya, saya senang dan bersyukur mereka bertanya dan heran demikian, sehingga saya terdorong untuk berbagi pandangan. Sebagian kecil dari mereka pernah saya ajak berdiskusi singkat sebelumnya. Mungkin yang akan saya utarakan di sini bukan juga hal yang pertama terdengar.

Kini saya coba mulai rangkumkan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dan keheranan-keheranan tersebut di momen yang masih hangat oleh peringatan Isra’ Mikraj, yang termasuk di dalamnya peristiwa turunnya perintah sholat wajib.

Oh iya, mohon dicatat, tulisan ini tidak sedang menjustifikasi siapapun, termasuk diri saya. Semoga karena tulisan ini, tidak lantas membuat saya tampak lebih baik dan alim dari siapapun, ataupun sebaliknya. Ini semua pandangan subyektif.

***

Saya baca surat apapun sesuai yang disyariatkan yang saya hafal, yang pendek maupun panjang, yang penting tahu artinya. Tidak harus tahu arti per kata, yang penting keseluruhan makna per ayatnya saya mengerti betul. Saya terbiasa mengucapkan (dalam hati) bacaan sholat dengan cukup santai. Sesantai, sebagaimana kita berbicara dengan orang lain. Maksudnya, secara tempo seperti ngobrol dengan teman dalam percakapan sehari-hari. Hal itu memudahkan saya untuk mengucapkan dalam hati bacaan sholat sambil meresapi maknanya. Makna ya, bukan selalu arti per kata. Memang ada ayat dan surat tertentu, karena terbiasa dan hafal, saya dapat mengartikannya per kata. Saya tahu memang tak mudah untuk membagi pikiran dan hati untuk berbicara dalam Bahasa Arab sekaligus membisikkan maknanya dalam Bahasa kita sendiri. Apalagi mengartikannya per kata, akan menyita pikiran dan dapat membuat tidak khusyuk. Oleh karenanya saya memilih meresapi maknanya, disamping bila memungkinkan mengartikan setiap katanya. *Bersyukurlah bagi Anda yang saat ini sudah mengerti Bahasa Arab.

Sejak kapan dan mengapa saya mulai berpikiran untuk melakukannya dalam sholat?

Ada momen saat saya hampir menginjak usia 20, saat akhirnya saya mulai sadar bahwa sholat saya mungkin tidak ada esensinya jika yang saya baca hanyalah sesuatu yang keluar dari mulut belaka, tanpa mengerti apa makna yang sedang dibaca. Saya saat itu coba bayangkan, jika itu saya lakukan kepada rekan, kerabat, atau orang lain, yaitu berbicara, berkomunikasi tanpa mengerti apa yang keluar dari mulut, tentu komunikasi terasa hampa dan retorik. Nah sholat ini, berarti sedang berkomunikasi dengan Tuhan loh. Berbicara dengan orang yang dicinta saja kita bisa konsentrasi, mengatur tempo, mengatur bicara, mengatur napas, menahan waktu, memandangi matanya, dan fokus pada kehadirannya. Namun mengapa saat sholat, kita justru enggan, tak terpikirkan untuk, atau belum lakukan itu?

Jangankan dengan Tuhan, dengan sesama manusia saja kita sepatutnya mengerti, sadar, dan bertanggung jawab atas apa yang sedang kita ucapkan. Apalagi jika saat sedang berkomunikasi dengan Tuhan?

Saya tidak sedang membandingkan secara setara esensi berkomunikasi manusia, antara dengan sesamanya dan dengan Tuhannya. Jelas berbeda. Posisi sholat di sini wajib. Bagaimanapun kita memandangnya, sholat tetap harus dilakukan. Namun semoga nalar sederhana tersebut dapat membantu kita merenung lebih mendalam tentang arti sholat. Tuhan memang Maha Mengetahui, namun bukan berarti kita meremehkan dan tak peduli dengan bacaan sholat kita.

Cuma bedanya dengan berkomunikasi dengan manusia, saat sholat secara teknis kita seolah sedang berbicara sendiri dalam hati, tanpa bersuara keras. Tapi yakinlah bahwa Tuhan sedang mendengar dan menyimak apa yang kita lantunkan dalam hati. Saya selalu berusaha menggetarkan, tentu dalam batas kemampuan manusia dan tak berlebihan, bahwa selama sholat saya beserta raga dan ruh adalah sedang berkomunikasi dengan Yang Maha Dekat. Bahkan saya tak ingin menyia-nyiakan waktu tersebut, seolah tak ingin waktu sholat itu cepat berlalu. Seperti sedang ngobrol dengan orang-orang terdekat maupun idola, kita menatap matanya, seolah ingin menahan waktu, dan menikmati momen. Kenikmatan momen dalam sholat ini kemudian saya artikan sebagai khusyuk.

Pada praktiknya tak selalu mudah. Menyelaraskan pikiran dan hati untuk berjalan di satu jalan yang sama tidak semudah mengendalikan kemudi kendaraan, terutama pikiran, karena disanalah sumber gangguan ketenangan hati. Oleh karenanya saya berusaha menjinakkan pikiran terlebih dahulu sebelum memulai sholat, terutama jika sholat tersebut saat di tengah waktu kerja atau aktivitas yang menyita pikiran. Saya memulai menjinakkan pikiran dengan wudhu yang benar. Bacaan niat wudhu pun tak luput saya resapi juga maknanya. Setiap aliran sejuk air wudhu di lapisan kulit yang dibasuh juga saya nikmati.

Saya juga bukan orang yang selalu tepat di awal waktu untuk melakukan sholat, meskipun tentu di awal waktu adalah yang paling utama. Namun saya berusaha siap jiwa raga untuk menghadap, bermunajat kepada-Nya. Saya juga berusaha fokuskan sholat saya hanya untuk menghamba kepada-Nya, tidak untuk mengharap diberikan sesuatu, misalkan sukses di dunia, jodoh, termasuk juga masuk surga. Sholat dengan berusaha hanya mengharap ridho-Nya.

Saya menganggap sholat adalah upaya untuk bertamu kepada-Nya, atau hanya sekedar ingin lewat di depan dan menengok “pelataran istana-Nya”. Tak perlu berpikiran apakah kita akan diterima dan diberikan (atau dijamu) sesuatu oleh-Nya atau tidak. Itu semua hak prerogatif-Nya. Cukuplah yakin, kalau kita berniat baik untuk bertamu dan berbicara, kita pasti akan diterima.

Barulah saat selesai sholat, doa-doa atas keinginan dan harapan kita panjatkan, sesuai yang dianjurkan. Berdoa setelah sholat, bukan selama sepanjang sholat (kecuali saat sujud dan setelah bacaan tahiyat akhir) karena bacaan sholat sendiri sebagian besar sudah merupakan doa.

Namun seringkali yang menjadi masalah jika sholat berjamaah, terutama saat menjadi imam. Saat menjadi makmum bagi saya tidak masalah jika bacaan imam saya lebih cepat. Saya masih bisa mengikuti. Karena meskipun bacaan sholat saya belum selesai namun imam sudah akan berpindah gerakan, saya bisa mencoba menyelesaikan sisa bacaan dalam bentuk pemaknaan, tidak dibaca per kata cepat-cepat. Sedangkan saat menjadi imam, saya perlu beradaptasi dengan kebiasaan makmum saya, ada yang biasa cepat, ada juga yang biasa lama. Namun terlepas dari itu semua, saat sholat berjamaah telah disunnahkan untuk tidak terlalu berlama-lama. Saya pun mematuhi dan berusaha mempercepat bacaan saya dari biasanya. Saya bisa mereduksi lama waktu sholat saya hingga 3/5-nya untuk saat menjadi imam. Itu juga kadang masih dirasa lama oleh makmum, dan saya mohon maaf, hehe.

Terlebih inti lagi dan menuju simpulan, akhirnya saya berpikiran bahwa tak penting mempermasalahkan berapa lama waktu sholat kita. Lamanya sholat juga tidak serta merta menjamin kekhusyuknya. Pertanyaan terpenting adalah sudahkah kita merasa khusyuk dengan waktu sholat kita selama ini bagaimanapun lama atau sebentarnya? Yang bisa menilai kebutuhan akan lamanya waktu kita sholat adalah masing-masing dari kita sendiri. Bahkan setiap orang akan punya metode atau kiatnya sendiri untuk bisa membuat sholatnya menjadi nyaman. Saya memilih dan terbiasa sholat dengan durasi waktu yang tidak sebentar karena begitulah kebutuhan sholat saya, juga salah satu cara untuk mencapai khusyuk. Saya telah menemukan titik nyaman tersebut, sementara untuk saat ini. Mengapa sementara? Karena kebiasaan ini bisa saja berubah, tergantung apa yang saya rasakan dan temukan dari diri saya di kemudian hari. Yang penting tidak lupa walaupun kita sudah merasa benar dan damai, belajar mengenal diri sendiri dan diri-Nya akan berlangsung sampai kapanpun.

Akhir kata, selamat mendirikan sholat. Selamat bermunajat kepada-Nya.

(Bandung, 24 April 2017)

*Komentar, kritik, dan saran terhadap tulisan ini dapat disampaikan pada kolom komentar atau email: firmaniqrob@gmail.com. Saya membuka diskusi konstruktif dengan teman-teman pembaca. Salam.

Hikayat Sebuah Nama (Sebuah Cerpen)

Pagi itu… di jalanan kota tapal kuda, Rul, begitulah panggilan lelaki dan juga sekaligus ayah dua anak itu, mengarungi medan rezeki dengan sepeda motor bututnya menuju kampus Universitas Jember. Di tahun 1991, bebek besi yang dia kendarai mungkin belumlah terlalu butut, baginya masih terbilang ‘wuah’. Ya, motor kelas ‘merakyat dan alhamdulillah, masih punya kendaraan. Sebagai tenaga ahli di laboratorium komputer pertama di kota itu, dia memikul tanggung jawab finansial terhadap istri dan dua anak yang masih belum menginjak sekolah dasar. Tampak seperti keluarga idaman pemerintah ya, dua anak saja lebih baik.

Ah astaga, ada yang terlupakan. Satu janin berusia 6 bulan di perut istrinya haruslah juga diingat akan menambah satu lagi tanggung jawab penafkahannya kelak. Saat itu belum ada instalasi USG di semua rumah sakit di penjuru kota. “Perempuan? Atau laki-laki lagi?” dalam batinnya. Dua anak laki-laki nampaknya saat itu sudah cukup beralasan untuk membuatnya berharap anak perempuan akan lahir berikutnya dari rahim istrinya. Masihlah wajar, hanya sebatas berharap, toh laki-laki atau perempuan tentu akan disyukuri.

***

Sementara di rumah, An, panggilan istrinya, sudah menyiapkan beberapa baju perempuan seukuran bayi dan balita sebagai upaya terbaik untuk menyambut kelahirannya bayinya nanti. Kabar itu juga telah mampir di telinga ibu-ibu di sekitar rumah. Kadangkala sambil menjahit, yang merupakan hobi dan keahliannya, dia berangan-angan seorang bayi perempuan tertidur di timangannya. Satu baju, dua sampai lima potong per hari pun bisa dia selesaikan tak lepas dari angan celoteh suara anak perempuan. Beberapa baju juga ada yang beli di pasar. Belum lagi juga menyiapkan ‘gudhangan’ khusus anak perempuan, yang berbeda dari ‘gudhangan’ untuk kedua anak laki-lakinya dahulu. Seorang ibu selalu menjadi orang yang paling sibuk untuk urusan persiapan kelahiran bayi. Lahir dan batin. Tentu.

***

Namun terlebih dalam bagi Rul, bukan hanya jenis kelamin anak ketiganya yang menjadi pikiran dan harap di benaknya. Ada sesuatu lain yang lebih mendalam. Lebih filosofis mengenai fitrah dirinya sebagai manusia.

Di kultur Islam Jawa, memiliki kenalan atau sosok panutan agama berupa kyai atau ustadz adalah hal yang lumrah. Bahkan tidak heran jika ada orang yang cukup bersandar nasehat dan kyai panutannya.

Wistah, lakonono, nuruto wae opo jare kyai A. (sudahlah, lakukan, patuhi saja apa kata kyai A.)”, “Ojo lali nyuwuno dungone pak ustadz B ben lancar urusanmu. (mintalah doanya pak ustadz B agar lancar urusanmu.)”, adalah contoh kata-kata yang sering diucapkan orang tua kepada anaknya atau sesama kerabatnya. Namun bagi Rul hal itu tidaklah biasa demikian. Dia tak ingin melakukan sesuatu hanya semata-mata karena percaya atau asal nurut pada sosok ustadz dan kyai. Dia ingin yakin karena dari dalam hatinya.

Latar belakang religius keluarganya yang cukup disiplin dan konservatif ternyata belum cukup membuat dia merasa telah menemukan Tuhannya, atau setidaknya bertemu bayangan-Nya. Alih-alih tampil alim dan kalem dengan aura ulama, dia justru menjadi pemuda moderat dan persuasif dengan aura aktivis bisnis.

‘Siapakah manusia?’, ‘dimanakah Tuhan?’ dan ‘mengapa manusia diwajibkan shalat?’ adalah contoh pertanyaan-pertanyaan ‘liar’ yang telah lama ada di dalam benaknya. Alhasil pertanyaan tersebut kemudian mengantarkan raga dan pikirannya dalam diskusi panjang dengan beberapa kyai dan ustadz yang dia kenal. Namun dia belum terpuaskan.

Oposih sing sakbenere kudu tak goleki teko urip neng dunyo iki (apasih yang sebenarnya harus saya cari dari hidup di dunia ini)?” tanya dalam dirinya sesekali dalam simpuh seusai shalat, renungan di kala petang, perjalanan menuju rumah, serta pejaman mata sebelum malam mulai menghimpun lelapnya. Tidak lain adalah petunjuk-Nya yang benar-benar dia harap.

***

Cahaya itu pun akhirnya perlahan dan bertahap muncul.

Dzikir dengan mengharap ridho-Nya adalah jawaban terbaik, atau hal yang akan mampu menjawab semua tanya yang entah berapa kali telah berthowaf dan beresonansi dalam ruang pikirannya.

Dzikir esensinya adalah mengingat Allah.

Bismillah’, adalah contoh dzikir yang paling sederhana dan terbanyak diucapkan melalui lisan maupun dalam batin.

Namun seringkali dengan tanpa sadar betapa besarnya makna satu kata itu bila dihayati. Dalam satu kata yang bisa kurang dari sedetik untuk diucap itu tersimpan makna kerelaan seorang hamba yang hanya mengharap ridho-Nya. Meluaskan hati.

Silaunya cahaya ini membuat Rul ingin menegaskan syukurnya pada hari sebuah nama disematkan.

***

Pagi cerah di ujung Agustus, tak sampai dua jarum jam dinding berimpit membujur membentuk garis vertikal, dia dan istrinya harus bergegas keluar rumah, menghadang angkutan umum yang masih kosong. Tanpa pikir panjang sopir langsung melajukan mobilnya, kencang menuju rumah sakit, sekitar 5 kilometer dari rumah dengan hanya mereka berdua sebagai penumpang. Layaknya penumpang VIP!

Hampir, sangat hampir ternobatkan untuk pertama kalinya menyapa dunia dan masuk angin di sebuah mobil Carry warna kuning yang pintunya terbuka, bayi yang ditunggu pun terlahir normal dan cepat di ruang bersalin. Bahkan sang bidan yang baru selesai gosok gigi, terlihat dari sedikit ‘makeup’ sisa busa pasta gigi di sekitar bibirnya, pun belum sempat mengucapkan sepatah mantra sakti “tahan”, “tarik napas”, dan sebagainya, seorang bayi telah lahir atas usaha keras ibunya. Mungkin sebagian juga karena keinginan sang bayi, sudah tak sabar untuk melihat dunia.

Yes, laki-laki. Lagi.

Baju bayi dan balita yang telah dipersiapkan akhirnya diestafetkan cuma-cuma kepada ibu-ibu sekitar rumah dan kerabat yang juga menantikan lahirnya seorang bayi perempuan. Jenis kelamin tak lama hari kemudian bukan menjadi persoalan karena terlebih dalam itu, hati dan ruh yang ada di dalamnyalah yang terpenting.

Oh iya, bayi itu kemudian diberi nama Firman Iqro’ Bismillah, sesuai yang ayahnya inginkan.

Di balik rangkaian kata yang langka untuk sebuah nama itu, ternyata banyak celoteh lucu dihasilkan oleh pemiliknya selama masa kecilnya, hingga kini selalu dikisahkan setiap tahun oleh sanak keluarganya. (Bersambung)

(Bandung, 23 September 2016)

*Cerita ini saya susun bersama tokoh utama

Yang Membuat Ramadhan Berkesan

Ramadhan tidak hanya menjadi bulan suci bagi umat Islam untuk beribadah. Di Indonesia, secara kultural, bulan suci ini seringkali dikaitkan dengan momen kebersamaan dalam keluarga. Salah satu contohnya adalah munggahan yang lazim dilakukan di lingkungan budaya Sunda, yaitu berkumpul bersama keluarga di hari pertama Ramadhan dan menyantap hidangan liwetan buka puasa bersama, bahasa kekiniannya adalah family party dengan makan bareng.

Saya pikir itu adalah tradisi yang bagus dilakukan untuk membuat momen Ramadhan menjadi lebih spesial dan bermakna. Saya senang membayangkan tradisi itu ada di keluarga saya, karena hal itu tidak pernah kami lakukan sebagai tradisi.

Namun bukan berarti tanpa munggahan, atau berkumpul dengan keluarga, Ramadhan menjadi hampa. Terutama bagi mereka yang hidup dalam perantauan, contohnya mahasiswa. Ada cara lain untuk membuat Ramadhan menjadi bermakna, seperti berbuka di masjid atau tempat yang belum pernah dikunjungi. Menurut saya cara ini akan berkesan karena bagi perantau hijrah adalah hal yang menyenangkan, seringkali terasa seperti bersua dengan kekeluargaan yang baru. Dalam keberasingan, jauh dari lingkungan rutinitas, perantau seringkali merasa jadi lebih bersyukur masih bisa bertemu dengan orang-orang baru, atau bahkan meskipun hanya sekedar menjadi pengamat tenang dalam keramaian.

Dengan kebermaknaan yang sama, berbuka bersama anak jalanan atau yatim piatu juga menjadi pilihan bagus. Lihatlah bagaimana mereka menyantap lahap hidangan yang Anda berikan dengan penuh keceriaan, sambil menyadari tentang perut Anda yang tidak beda laparnya dengan perut mereka dalam hidup keseharian mereka.

6 tahun merantau di Kota Bandung, sayangnya saya tidak pernah melakukan ini di hari pertama, namun pernah saya lakukan di pertengahan Ramadhan. Mungkin karena jiwa perantau saya tidak terlalu kental, saya lebih memilih berbuka puasa pertama di sekitar kampus atau kosan.

Terlepas dari keberagaman cara menyambut Ramadhan, yaitu dengan hal-hal yang halal dilakukan, yang esensial adalah rasa syukur akan kesempatan umur yang dimiliki untuk menyambut kembali Ramadhan, suka cita seperti saat kita kecil menyambut orang tua kita di rumah setelah pulang kerja.

Lalu bagaimana hari pertama Ramadhan saya berkesan?

Yang berkesan pernah terjadi di tahun lalu, saat 1 Ramadhan jatuh di pekan pertama saya sedang ikut proyek sebagai geoophysicist di NTB. Di hari pertama itu kami sepakat untuk libur (day-off) terjun ke lapangan. Jauh dari kota perantauan dan kampung halaman, berbuka puasa pertama dengan orang-orang yang bahkan baru saat momen proyek itu pertama bertemu. Membayangkan cuaca panas plus medan yang menghauskan, serta sempat menjalani tiga hari proyek sebelum Ramadhan, semula saya tak berpikir akan kuat berpuasa penuh di sana. Saya kira kebanyakan orang lapangan akan berpikir seperti itu.

Namun alhasil, tekad tim dan manajemen waktu di lapangan yang baik, kami semua mampu berpuasa penuh. Kami biasanya mulai berangkat ke lapangan (berpencar menjadi tiga tim) jam 7.00-8.00, jam 11.00-13.00 kami istirahat di gubuk atau di bawah pohon rindang, dan kembali ke basecamp saat menjelang waktu Ashar. Sore hari sampai maghrib adalah waktu tenang (silent hours), kami lebih banyak habiskan waktu istirahat sendiri untuk menghemat tenaga dengan tiduran, main HP, atau bahkan melamun. No serious talk about work, no gossip, no wasted energy, only focussing on relaxing. Baru setelah berbuka kami mulai senda gurau dan membicarakan kerjaan di hari tersebut dan esok hari.

Bagaimana dengan saat ini?

Hm.. meskipun sedang berada di rumah, semula saya berpikir momen awal Ramadhan tahun ini biasa saja, hidangan buka makan biasa biasa (tanpa perlu persiapan khusus), tanpa berkumpul dengan semua anggota keluarga. Namun sangatlah tampak kecil ruang syukur ini kalau saya berpikir demikian. Saat ini adalah awal Ramadhan pertama saya di kampung halaman sejak 2009. Terlebih lagi, karena sejak SMP saya terbiasa lama hidup terpisah dari orang tua, sepertinya ini adalah awal Ramadhan pertama di rumah bersama Ibu sejak sekitar satu setengah dekade silam.

Sekaligus menjadi Ramadhan pertama juga dimana jemari saya mulai tergugah kembali menari di atas keyboard, menulis lagi untuk blog ini.

Ternyata kalau dicermati lebih dalam kondisinya, setiap momen yang terjadi tiap waktu pun akan unik dan berkesan meskipun dijalani dengan aktivitas yang biasa saja.

Mencontek, mengapa? sebuah pandangan dari pengalaman

Isu tentang tindakan mencontek dan pelanggaran integritas lain saat ujian oleh mahasiswa saat ini sedang hangat dibicarakan di lingkungan belajar sekitar saya. Bukan orang yang pertama tentunya saya menulis tentang topik ini. Sebenarnya lingkungan saya bukan yang pertama saya tahu karena saya juga pernah menyaksikan sendiri kejadian mencontek yang lebih berjamaah di jurusan lain, tentu tidak bisa saya sebutkan di sini.

Tentang contoh dan bagaimana isu ini mulai menghangat dan bagaimana opini yang timbul saya rasa sudah pernah dibahas di tulisan-tulisan teman saya sebelumnya. Salah satu yang baru-baru ini saya baca adalah (Sebagian) Mahasiswa ITB Mencontek. Pro-kontra mengenai isu dan tulisan tersebut juga merebak karena terdapat nama besar sebuah nama institusi di sana. Dengan masih memegang kecintaan pada almamater saya, menurut saya jika memang begitu faktanya, harus siap diakui. Namun dalam tulisan ini, marilah kesampingkan dahulu mengenai tempat dan subyeknya. Kini saya ingin membahas lebih pada substansi isu ini.

Saya belum meriset lebih lanjut dan belum bertanya pada narasumber terkait hal ini, contohnya kepada pelaku mahasiswa yang mencontek. Namun saya ingin mencoba berpikir dari sudut pandang orang-orang tersebut, apa yang bisa mendorong mereka untuk mencontek.

Sekarang mari bermula dari pertanyaan bagaimana saya bisa berpikir dalam sudut pandang ini. Tentu jawabannya adalah karena saya juga pernah mencontek saat ujian atau kuis. Kapan? Tepatnya entah, karena sebenarnya sangat jarang, tapi yang benar-benar masih saya ingat pernah sesekali adalah saat SD kelas 6 dan SMP kelas 3. SMA dan kuliah? Alhamdulillah tidak.

Tentu bisa jadi ada banyak alasan yang bisa mendorong mahasiswa untuk mencontek. Saya lebih menyoroti lebih pada sisi yang lebih prinsip.

Nilai yang utama, ilmu nomor dua. Masih banyak mahasiswa atau pelajar pada umumnya yang memandang bahwa nilai adalah gambaran ilmu yang didapat. Sehingga mereka berusaha untuk memperoleh nilai tertinggi, atau bahkan lebih tinggi dari yang lain untuk menunjukkan dirinya berilmu. Tentu seharusnya tidak demikian. Ujian hanyalah pertanyaan seputar hal yang ingin dosen tanyakan sebagai parameter dasar untuk mahasiswa tersebut telah mengerti apa yang selama ini dosen ajarkan atau belum. Ilmu lain yang kita pahami namun (mungkin sayangnya) tidak ditanyakan pada soal ujian juga pasti akan dihargai oleh dosen kita.

Kurang menghargai diri sendiri. Pentingnya memiliki integritas adalah dapat memperkirakan sejauh mana hasil yang layak didapatkan. Selama kita merasa sudah berusaha dengan belajar maksimal, biasanya hasil nilai yang akan didapatkan tidak akan berpengaruh pada harga diri. Justru melakukan kecurangan akan membuat rasa bersalah dan kecewa pada diri sendiri.

Belum (pernah atau bisa) merasakan puasnya keringat sendiri. Hal ini sebenarnya berkaitan dengan sebab kedua dia atas. Orang yang bisa menghargai diri sendiri akan dapat dengan lebih mudah merasa puas atas jerih payahnya sendiri. Kepuasan hati seperti ini seringkali tidak dapat dikalahkan oleh kepuasan mendapatkan nilai ujian yang bagus yang jika dilakukan dengan mencontek. Terlebih lagi jika dengan mengerjakan sendiri dan mendapatkan nilai terbaik, kepuasan tersebut tidak tergantikan. Dan tentu jangan lupa bersyukur.

Memberikan indeks akhir matakuliah E bagi mahasiswa yang mencontek adalah sanksi yang telah umum diterapkan. Tindakan ini bersifat preventif dan perlu didukung oleh pengawasan ujian yang ketat. Tentu harapannya sanksi tersebut dibuat bukan untuk menghukum, namun untuk mencegah. Efek jera mungkin dapat membuat pelaku mencontek menjadi takut melakukan tindakan yang sama. Namun bagaimana jika tidak? Jawaban itu sedang saya cari.

Namun, dalam hal ini satu hal yang bisa saya tambahkan.

Dengan logika biasa, dapat dinalar bahwa kemungkinan mahasiswa mencontek karena belum memahami materi yang akan diujikan. Bisa jadi juga bahwa sebenarnya ada separuh kewajiban dari teman-temannya yang pandai untuk mengajari mahasiswa tersebut agar dorongan menconteknya lebih dapat dihindari.

 

Bandung, 17 Mei 2014.

Parent’s Wedding

Usia 22 keatas, nikah menjadi sesuatu yang mulai trending di lingkungan pergaulan. Undangan nikah pertama dari temen (seangkatan) akan menjadi yang paling booming dan momen tersebut nggak akan Anda lewatkan.

Tapi ngomong-ngomong tentang undangan nikah yang bertebaran di tahun 2013 ini, saya baru sadar bahwa acara nikahan pertama yang pernah saya hadiri adalah seperti pada foto dokumentasi di bawah. Jauh sebelum hari ini.

Nikahan siapa? Tidak lain adalah nikahan bapak dan ibu (tiri) saya. Hm..lupa sih ini tanggal berapa. Yang jelas saat saya kelas 3 SD dan kalau tidak salah bulan April.

 

 

So nostalgic, karena waktu itu kami (satu saudara) masih kecil-kecil dan lucu, bahkan sepertinya saat itu kami tidak terlalu ngeh kalau bapak sedang melakukan menikah. Yang penting saat itu keluarga sedang berkumpul dan makan2. Tanpa sadar bahwa bapak dan ibu saat itu telah membuat keputusan besar dan sedang membuka pintu petualangan yang baru bagi putra/putrinya.

Sejak saat itu istilah keluarga di kepala saya bertambah, ada keluarga “kandung”, ada “tiri” juga. Pada awalnya begitu terasa perbedaannya mengenai dua istilah tersebut karena menyatukan pandangan dan kebiasaan dua keluarga ternyata tak semudah menyatukan ikatan suami dan istri. Namun lambat laun, tentu dengan melalui banyak tantangan dalam keluarga, saat saya tidak terlalu melihat ada perbedaan yang begitu memisahkan. Bahwa secara genetik dan biologis berbeda? It’s okay that’s the reality. Bahwa kami tidak seperti keluarga seutuhnya? No!

For all we have gone through, it turns out that we are destined to be a family and regardless blood we do have the same heart and dream to be a good and happy children.

Siapakah mereka, urutan duduk kiri-kanan: Firman, Mas Anas, Iqbal, Ajeng, dan Mas Prima.

*Out of topic. By the way, saya heran mengapa yang baju putih kotak-kotak tampak nggak sadar kamera? Mikirin apa nak? Hehe

Working in Oil and Gas Industry

Bukan hal aneh kalau kamu berharap untuk dapat bekerja di oil & gas industry. Entah apapun itu alasan kamu, apakah mengejar materi atau memang passion kamu disitu. |“Yang penting gue kerja di migas!” | “Gue memang passionate di bidang ini, bukan sekedar ngejar materi” | Ya terserah kamu sih. Tapi, kerja di migas bukan sekedar lo dapet crude oil, direfining, terus keluar BBM. BBMnya kemudian kamu pakai karena dijual di SPBU. Nah sektor ini disebut dengan sektor downstream. Kamu pasti paling akrab sama sektor ini, soalnya kamu memang berhubungan langsung dengan produk-produk yang dihasilkan oleh sektor ini. Selain BBM, produk lain yang biasa dihasilkan dari sektor ini adalah aspal, LPG, dsb.

Ngomong-ngomong soal downstream, ada dua lagi sektor utama dari industri migas, yaitu sektor upstream dan midstream. Ini aku coba jelaskan sepengetahuan aku ya (lengkapnya bisa tanya anak perminyakan/google/referensi lainnya):

  • Sektor upstream

Nyari minyak itu susah. Letaknya juga underground. Gimana tuh sampai kita bisa tahu letak potensi minyaknya? Berterima-kasihlah kepada para engineer yang melakukan eksplorasi dengan menggunakan advanced technology. Sektor migas yang berkaitan dengan eksplorasi, drilling, sampe mengeluarkan crude oil dari bawah ke permukaan adalah sektor upstream. Ilmu yang terkait ke sektor ini antara lain geologi, geofisika, dan perminyakan.

  • Sektor midstream

Ini mungkin sektor yang paling asing untuk kalian. Gini deh, misalkan aku lagi ada di seberang sungai dan kamu ada di sisi lainnya. Ibaratkan aku adalah sektor upstream dan kamu sektor downstream. Emang bisa langsung ketemu? Kan nggak. Aku harus menyebrang jembatan dulu supaya ketemu kamu. Nah jembatan yang aku sebrangi inilah si sektor midstream. Sektor ini berkaitan erat dengan processing facilities&pipelines. Pipa ini kemudian akan menghubungkan crude oil ke refineries. Kok agak mirip sama sektor downstream ya? Memang terkadang (apabila aku sotoy tolong dikoreksi dengan baik ya, hehe) ada elemen-elemen dari downstream yang masuk ke sektor midstream. Tapi, sebagai pembeda mutlak, sektor midstream tidak memarketkan hasil yang dia dapatkan. 

Begitulah industri migas kalo dilihat dari sektor industrinya. Nah ada lagi nih kerja di industri migas berdasarkan jenis perusahaannya. Beda loh ya, walau sama-sama perusahaan yang berkecimpung di dunia migas. Jangan sampe keliru ya satu sama lain. Berikut jenisnya:

  • Service company

Pernah denger Schlumberger atau Halliburton? Nah kedua perusahaan ini termasuk kedalam perusahaan servis. Minyak mentah yang dihasilkan dari rig bukan minyak mereka. Dari namanya aja, perusahaan servis, jadi ya mereka menjual servis yang berkaitan dengan eksplorasi dan produksi, kepada perusahaan klien. Bisa kerja menjadi field engineer, yang biasanya sih dibuka untuk all major (science/engineering background), atau bisa kerja menjadi geophysicist, geologist, petrophysicist kalau memang kamu punya background dari perminyakan, geofisika, atau geologi. Biasanya sama kok, posisi-posisi ini selalu ada di perusahaan servis manapun. Paling bedanya dari penamaan posisi.

Work hour di service company nggak kenal waktu. 24/7 lifestyle, menurut salah satu manager service company. 24 hours, 7 days per week, yang artinya emang lo harus selalu on bila dibutuhkan. Siap bekerja dengan situasi seperti itu? Ya mungkin memang kamu cocok di perusahaan ini.

  • EPC company

EPC stands for engineering, procurement, and construction. Nggak semua perusahaan punya ketiganya, E, P, & C, banyak yang cuma berkecimpung di E, atau E&P. Ngomong apaan sih? Haha dijelaskan dulu ya seperti berikut.

Sudah tau lokasi potensi minyak? Saatnya membangun fasilitas produksi pengolahan! Nah, inilah yang biasanya dikerjakan oleh orang-orang EPC. Pertama-tama, orang engineering akan membuat flow diagram, P&ID, dan gambar teknik. Setelah itu apa saja material yang kira-kira mereka rasakan butuh di fasilitas produksi, akan mereka request. Mereka request material yang dibutuhkan kepada orang Procurement. Orang Procurement akan memilih vendor yang bisa menyupply material yang dibutuhkan melalui tender. Mereka harus tau barang ini kapan beres dan sampai ke site. Sounds easy? Nooo, it is so damn hard! Kalau barang nggak beres/tiba di site tepat waktu, proyek bisa banget molor loh. Dan akibatnya merugi. Setelah barang didapat, giliran orang Construction yang ngebangun fasilitas produksi pengolahan. Karena emang berkaitan dengan konstruksi, biasanya yang berkecimpung disini adalah anak-anak dari Teknik Sipil dan Mesin. Oh iya, contoh EPC company antara lain Tripatra, Rekind, KBR, dan IKPT.

  • Owner company

Inilah klien dari EPC maupun service company. Minyak yang dihasilkan nantinya merupakan milik owner company. Owner company pulalah yang biasanya langsung medistribusikan produk minyak yang sudah jadi ke tangan konsumen. Kayaknya asik? Ya nggak juga. Kalau memang ternyata tidak ditemukan potensi minyak, owner company lah yang paling merugi. Owner company lah yang mengeluarkan uang berjuta-juta atau bermilyar-milyar dollar. Di Indonesia, ada yang namanya Production Sharing Contract (kontrak bagi hasil) antara pemerintah dan owner company. Pada umumnya si owner company diwajibkan untuk menyerahkan kembali persentase tertentu dari area kontrak pada tanggal tertentu, kepada pemerintah. Contoh owner company antara lain Chevron, Total , Eni, dan Conoco Phillips.

Oh ya, sangat mungkin berpindah dari service company dan EPC ke owner, namun tidak dengan EPC ke service company atau sebaliknya. Scope of worknya terlalu jauh berbeda antara EPC dan service company. Susah kalau sudah experience di EPC terus pengen pindah ke service company. Tapi kalo kamu pengen kerja di owner, bisa dimulai dengan kerja di EPC/service company dulu. Langsung kerja di owner company juga nggak apa-apa. Tergantung career path yang kamu rancang seperti apa, hehe. Yah pokoknya, semoga penjelasan saya (dengan pengetahuan yang terbatas) mengenai industri migas dapat menjadi bacaan yang menarik.

Intinya sih, saya menyarankan jangan cuma nyari gaji doang disini, karena pada akhirnya toh lo nggak akan betah disini kalo tujuannya cuma itu.

Regards,

Azka Aulia

(Systems Engineer at PT.Tripatra Engineers & Constructors)